Rabu, 15 Juni 2011

PELAYANAN MAKSIMAL DI RESTORAN/RUMAH MAKAN


PELAYANAN MAKSIMAL DI RESTORAN/RUMAH MAKAN

Bisnis restoran, catering atau rumah makan adalah bisnis yang dianggap oleh banyak orang sebagai bisnis yang paling mudah untuk dilakoni dalam situasi apa pun. Orang selalu memiliki alasan bahwa setiap orang perlu makan, jadi bisnis makanan tidak akan pernah mati. Realitas menunjukkan bahwa bisnis rumah makan adalah salah satu bisnis yang paling mudah untuk mulai/dibuka dan juga paling mudah untuk berakhir/bangkrut. Sering sekali para pemula memulai bisnis rumah makannya karena mereka tergiur oleh untung besar yang dijanjikan oleh bisnis ini. Selain itu, selalu saja orang beranggapan bahwa menjalankan bisnis rumah makan adalah hal yang sangat mudah untuk ditekuni. Padahal ada begitu banyak kebangkrutan dalam bisnis rumah makan, yang pada umumnya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan manajemen pelayanan sempurna, manajemen keuangan, dan manajemen risiko. Di mana, hal ini akan mengakibatkan ketidakmampuan si pebisnis rumah makan untuk menjaga kontinuitas dari bisnis rumah makan yang dia jalankan.

Kalau Anda ingin menjalankan bisnis rumah makan, hal terpenting yang harus Anda pahami adalah pelayanan sempurna yang berbasis pada kualitas, harga, dan rasa makanan yang sesuai dengan target pasar Anda. Kemudian, Anda harus mampu memfungsikan semua karyawan, tanpa terkecuali, untuk menjaga dan melayani setiap pelanggan secara maksimal dengan menunjukkan sikap baik serta profesional.
Seiring dengan perkembangan waktu, maka teknologi pemerosesan makanan dan teknologi pelayanan pelanggan juga berkembang, maka mau tidak mau harus berkembang pulalah fungsi dari setiap karyawan untuk mendukung reputasi dan kredibilitas rumah makan.

Salah satu aspek untuk meningkatkan pelayanan sempurna yang harus menjadi perhatian penuh dari pengelola dan karyawan adalah aspek: kenyamanan, keselamatan dan keamanan dari kualitas pelayanan dan makanan yang disajikan. Ingat, pelanggan yang mendapatkan informasi secara rinci tentang kualitas pelayanan dari makanan yang disajikan, akan membuat si pelanggan menjadi loyal terhadap bisnis restoran, katering atau rumah makan kita. Kualitas makanan yang baik, adalah makanan dengan cara pengelolaan yang sehat dan bersih. Setiap kebaikan yang Anda ciptakan buat pelanggan Anda akan menghasilkan keuntungan berlipat buat bisnis rumah makan Anda.

Fungsi petugas restoran waiter/ss (front liner) rumah makan dalam pelayanan sempurna harus menjadi pelayan yang bijaksana dan baik hati, serta cerdas memainkan perannya sebagai simbul rumah makan, yang selalu bersikap baik, ramah-tamah dalam pelayanan kepada setiap pelanggan.

Front liner dalam hal ini waiter/ss juga wajib bekerja dengan tegar dan efektif dalam setiap situasi yang berbeda, untuk mengatasi berbagai sikap dan perilaku pelanggan yang beragam dan mungkin kadang terasa aneh.
Sikap menyingkirkan ego diri untuk menjadi lebih kooperatif dengan pelanggan adalah wajib hukumnya buat para front liner/waiter/ss.

Setiap pribadi waiter/ss harus memiliki keyakinan dan tanggung jawab penuh untuk menyelesaikan sebuah tugas pelayanan kepada pelanggan dengan efektif, produktif, dan efisien
Kecerdasan emosional front liner untuk bisa memahami perasaan dan kebutuhan pelanggan, adalah fondasi terpenting dalam memberikan pelayanan sempurna yang berkualitas.

Jiwa terdalam dari para front liner bisnis rumah makan haruslah didasari oleh prinsip pelayanan yang berkarakter ikhlas, tulus, luwes, berempati, baik hati, jujur, sopan santun, bekerjasama, penuh senyum, serta bermental positif untuk memahami orang lain dalam setiap proses kerja.
Manajemen rumah makan wajib membangun standard pelayanan pelanggan yang sesuai dengan keunikan rumah makan tersebut. Standard pelayanan pelanggan ini seharusnya dapat digunakan untuk mengukur kualitas dan kinerja dari para front liner dan para non front liner rumah makan.

Dengan tujuan untuk memahami besarnya produktifitas yang mereka hasilkan sebagai wujud dari kontribusi mereka terhadap bisnis rumah makan. Juga, dengan adanya standard pelayanan pelanggan ini dapat menimbulkan kesadaran beretika dalam melaksanakan pelayanan sempurna, serta dapat menjadi acuan bagi rumah makan dalam melaksanakan manajemen risiko untuk menjaga keamanan, keselamatan, kenyamanan, untuk kepentingan pelanggan dan kepentingan rumah makan itu sendiri

Untuk training/inhouse training hubungi: admin@insanharapan.com 

Selasa, 14 Juni 2011

Berusaha lebih keras

Ketika saya bersama istri makan siang di foodcourt sebuah mall. Istri memutuskan untuk membeli makan siangnya di counter sebuah waralaba ternama sementara saya memesan nasi goreng di counter lainnya. Untuk minumnya istri memesan mocca float (campuran milo, kopi, dan whipped cream). Karena sedang hamil istri meminta kalau bisa jangan dicampur kopi tetapi cukup milo dan whipped cream saja. Pegawainya menjawab "TIDAK BISA! Kalau ga suka ga usah mesan!" dan malah dengan sengaja memberikan porsi kopi yang cukup banyak sehingga (menurut saya yang mencicipinya juga) kopinya terasa banget.

Istri saya curhat dan katanya ada sesuatu yang menarik perhatiannya, yaitu ternyata karyawan tersebut mengenakan tag "TRY HARDER".

Hmmm...sesuatu yang menarik perhatian saya dan siang itu kami habiskan dengan mendiskusikan PERILAKU pegawai tersebut. YA, BETUL...PERILAKU dan bukannya IDENTITAS DIRI orang tersebut karena yang namanya PERILAKU seringkali tidak menggambarkan NIAT yang sebenarnya dari orang tersebut. Bisa jadi karena PETA MENTAL atau MAP atau PILIHAN yang tersedia hanya sedikit (terbatas) sehingga pegawai tersebut berperilaku atau bertindak seperti itu.

Contoh:
Orang mengemis karena mungkin PETA MENTAL atau MAP atau PILIHAN yang tersedia terbatas sehingga dia mengemis. Bagaimana dengan mereka yang mempunyai PETA MENTAL atau MAP atau PILIHAN yang lebih banyak? Mereka bisa bekerja, bisa berwirausaha untuk memenuhi kebutuhan hidup, bukan?

Kembali ke tag TRY HARDER tadi...
Semoga tag tersebut hanyalah untuk menunjukkan PERILAKU orang tersebut bahwa dia harus berusaha dan berperilaku dengan lebih EFEKTIF dan KREATIF.

Sebaliknya tag tersebut dapat menjadi IDENTITAS DIRI bahwa dia adalah seorang pecundang atau loser, pemalas, yang pasif, dan lain sebagainya.

Dapat menjadi IDENTITAS DIRI lewat 2 cara: Pertama, lewat persepsi orang yang memberikan label tersebut atau persepsi para pelanggan yang membaca tag tersebut. Kedua, lewat realita yang diadaptasi atau diterima oleh mereka yang dilabeli (dalam hal ini adalah pegawai tersebut).

Pelanggan yang percaya bahwa pegawai dengan tag TRY HARDER adalah judes, kasar, lamban akan melihat dan merasakan pegawai tersebut memang judes, kasar, lamban, dan semua stempel negatif lainnya lewat fokus, distorsi, dan generalisasi di pikirannya. Istri saya bahkan sempat mengatakan: "Pantasan saja dia seperti itu karena dia memakai tag TRY HARDER" :) Persepsi, perkataan, dan perlakuan orang lain bisa jadi semakin menguatkan IDENTITAS DIRI tersebut.

Dan kalau pegawai tersebut percaya bahwa dia memang layak dilabeli TRY HARDER dan dia adalah seorang yang judes, kasar, dan lamban maka dia akan mewujudkan IDENTITAS DIRI ini lewat pikiran, perasaan, dan perilaku atau tindakannya.

Tentunya yang dianjurkan adalah tidak mempermasalahkan apakah label mengenai IDENTITAS DIRI tersebut BENAR atau SALAH tetapi apakah label tersebut menuntun dan membawa kita ke sesuatu yang berMANFAAT dan yang kita INGINkan.

Dalam hal ini mungkin lebih berMANFAAT kalau tag TRY HARDER saya persepsikan sebagai sebuah feedback agar saya memilih perilaku dan tindakan lain seperti lebih ramah, lebih sopan, lebih cekatan, lebih rajin, dan lain sebagainya dibandingkan mempercayai tag tersebut bahwa saya adalah orang yang judes, kasar, lamban, malas, dan lain sebagainya.

Daftar Web Terkait